Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Miftakhul Huda : “Jangan Pernah Putus Sekolah”

Miftakhul Huda : “Jangan Pernah Putus Sekolah”

Miftakhul Huda
Profil Keluarga Inspiratif Peneliti Muda di Jepang Asal Indonesia

Di usia 28 tahun, Miftakhul Huda telah mengantongi gelar sarjana, master, hingga doktornya di negeri Jepang melalui sponsor beasiswa. Pun pernah meraih predikat sebagai lulusan terbaik, yang mengantarkannya menjadi menjadi seorang peneliti di Jepang. Kesuksesannya tersebut tak lepas dari andil ayahnya, buruh batik asal Pekalongan yang tak pernah mengecap pendidikan – dan ibunya, yang hanya merasakan bangku SD saja.

-------

“Waktu dia kecil, saya pernah mimpi rumah saya didatangi Gusdur. Beliau duduk di bangku bambu yang ada di teras rumah kami, mengenakan kaos dan celana pendek. Tapi kemudian saya langsung terbangun. Mimpi itu benar-benar seperti nyata bagi saya...” kata Suparno sembari menerawang, mengingat-ingat kejadian yang dialaminya sekitar 21 tahun silam.

Mungkin dulu, sewaktu Suparno usai bermimpi, ia tak pernah memikirkan kembali apakah mimpi tersebut memiliki makna atau pesan tertentu baginya. Menurut pengakuannya, ia pun pernah bermimpi melihat bintang di langit di atas rumahnya yang amat terang benderang. Lintang kemukus, demikian orang Jawa menyebutnya. Namun kini, setelah mengilas balik, Suparno menebak-nebak, barangkali mimpi-mimpi tersebut merupakan pertanda yang berubungan dengan anak sulungnya. Putera pertamanya yang bernama Miftakhul Huda kini menjadi bak bintang kejora yang bersinar benderang. Sebuah kenyataan yang mungkin sebelumnya tak pernah disangka-sangkanya.

MiftakhulHuda diapit kedua orangtuanya.
Tiga puluh tahun lalu, Suparno yang asli Pekalongan masih berjibaku dengan tumpukan kain yang harus dicap dengan pola batik di sebuah perusahaan batik, dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Demikian pula Tunas Setiawati, perempuan asli Pekalongan yang amat dicintainya, yang kemudian melahirkan anak-anaknya. Kesulitan ekonomi sudah menjadi warna sehari-hari bagi Suparno dan istrinya. Maklum, pendidikannya tak genap. Ia bahkan tak bisa membaca dan menulis, tak pernah mengecap bantu TK, apalagi SD. Sedangkan sang istri pun tak jauh berbeda, namun masih sempat merasakan bangku SD. Oleh karenanya, Suparno yang ulet dan rajin giat bekerja apa saja. Mulai dari pedagang asongan, tukang becak, hingga buruh batik pun dilakoninya.

Terlebih ketika sang istri menghadiahinya enam anak. Mau tak mau, Suparno harus banting tulang dari hari ke hari, hanya supaya istri dan anak-anaknya dapat mengecap sesuap nasi dan bertahan hidup. Rumah pun tak sanggup ia beli, melainkan hanya menumpang di rumah orangtua ataupun mengontrak. Namun demikian, diam-diam ia menyelipkan tekad sekuat baja, bahwa bagaimanapun keadaannya, anak-anaknya harus bersekolah. Berkaca dari hidupnya sendiri, Suparno benar-benar tak ingin hal serupa terjadi pada anak-anaknya. “Jangan sampai anak saya merasakan seperti yang saya rasakan. Meski saya tidak punya biaya, saya tidak akan pernah menyuruh anak berhenti sekolah. Insyaallah saya yakin biaya pasti ada. Bismillah saja...” kata pria kelahiran 17 Maret 1959 ini dengan penuh keyakinan.

Si sulung, Miftakhul Huda, lahir pada 3 April 1986. Mulanya, tak ada yang istimewa dari bocah yang senang bermain basket ini. Masa kecilnya dilalui seperti anak-anak lainnya, bermain dan bersekolah. Hanya saja, pembawaannya lebih pendiam, bahkan menurut ibunya lebih pendiam daripada adik-adiknya. Ia pun cukup penurut, tak pernah menuntut, seolah paham dengan keadaan.  “Sejak kecil, dia memang suka suka belajar. Bahkan ketika SMA, dia suka belajar di alam terbuka, misalnya ketika memancing atau ke pantai, dia selalu tak lupa membawa bukunya,” cerita sang ibu. Tak heran jika sejak kecil, Miftakhul Huda selalu menyabet ranking pertama di kelasnya dan selalu memenangkan lomba.

Tak ubahnya seperti sang bapak, semangat dan motivasi Miftakhul Huda untuk bersekolah pun teramat besar. Ia bahkan getol menyemangati adik-adiknya untuk giat belajar dan sekolah. “Tapi sejak kecil, Miftakhul Huda memang sudah punya cita-cita ingin sekolah di tempat jauh, nggak tahu kenapa...” ungkap Suparno. Bagi sosok ayah seperti Suparno, yang masa kecilnya tak pernah mengenal kasih sayang seorang ayah, membayangkan anaknya berkeinginan untuk sekolah di tempat yang jauh tak pernah hinggap dalam benaknya. Bahkan boleh dikata, ia tak pernah memikirkannya. “Sekolah di mana pun terserah anaknya, saya nggak pernah memaksa anak dalam pilihannya. Yang penting, mereka sekolah,” tegasnya.

Tekad dan keyakinan Suparno untuk menyekolahkan semua anak-anaknya memang begitu kuat. Namun kerap kali kenyataan tak selalu sejalan dengan harapan. Hidup dan keniscayaannya tak henti memberikan cobaan dan ujian, yang juga tak luput menerpa kehidupan Suparno. Hari demi hari bergulir dengan roda perjuangan, mengumpulkan rupiah demi rupiah demi melihat anak-anaknya tetap berseragam sekolah. Dan perjuangan itu semakin keras tiap kali anak-anaknya hendak masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Apalagi pada waktu itu pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya gratis. Bayangan harus membayar SPP, membeli buku, seragam, dan sebagainya selalu menjadi momok baginya. “Biasanya, yang jadi sasaran ya juragan batik saya. Beliau sangat baik karena sering memberi saya piutang, terutama ketika anak-anak saya masuk ke sekolah baru,” kata Suparno.

Namun yang paling berat dirasakan Suparno adalah ketika Miftakhul Huda dinyatakan diterima di Program D-3 STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Rasa bangga memang terselip, namun Suparno pun kepalang panik. Ia harus menyiapkan sejumlah uang untuk biaya masuk dan pendaftaran. Belum lagi membayangkan uang untuk hidup sehari-hari putera sulungnya di perantauan nanti. Kalau dibandingkan dengan kemampuannya, maka segala tuntutan tersebut sudah benar-benar di luar jangkauannya. “Saya sempat bingung mau pinjam ke mana. Untunglah ada teman yang mau menolong meminjamkan uang, dan Alhamdulillah sudah terlunasi pula,” kisahnya.

Namun rupanya Miftakhul Huda memiliki kejutan yang lain. Menjelang satu tahun ia mengecap pendidikan di STAN di Tangerang, Banten, tahun 2005 ia diterima di Bunka Institute of Language Japanese Course di negeri Jepang. Demi menyadari ini adalah kesempatan emas yang tak datang dua kali, Miftakhul Huda pun memutuskan untuk mengambil beasiswa tersebut. Masa depan yang lebih cerah telah terbayang di pelupuk matanya. Pada ayahnya, ia berkata akan meninggalkan STAN dan terbang menuju Jepang. 

Dengan langkah mantap, Miftakhul Huda memulai kehidupan barunya di Jepang. Lulus dari Bunka Institute of Language Japanese Course, tahun 2006 ia melanjutkan studinya ke program S-1 jurusan Aplikasi Elektronik di Japan Electronic College dengan beasiswa Jepang hingga tahun 2008. Kemudian ia lintas jurusan, melanjutkan S-1 nya di Universitas Gunma, Jepang, di jurusan teknik listrik dan elektronik dan lulus pada tahun 2010. Kelangsungan studi Miftakhul Huda tampak berjalan dengan amat mulus, karena kemudian ia pun beroleh kesempatan dari beasiswa untuk melanjutkan program studi S-2 di jurusan Teknik Sistem Industri Universitas Gunma hingga pada tahun 2012. Cukup dua tahun saja Miftakhul Huda menyelesaikan S-2 nya. Itupun dengan predikat sebagai lulusan dengan nilai terbaik. Saat wisuda, ayah dan ibunya didatangkan dari Indonesia ke Jepang demi melihatnya memakai toga kebanggaan.

Karena prestasinya, usai tamat S-2, Miftakhul Huda beroleh kesempatan lagi untuk mendapatkan beasiswa S-3 dari Monbusho, yayasan milik Sanrio Co., Ltd. dan JSPS. Ia mengambil spesialisasi di bidang nanoteknologi, semikonduktor, sel matahari Universitas Gunma. Tahun 2014, Miftakhul Huda berhasil mengantongi titel Doktornya.

Saat itu usianya baru menginjak 28 tahun, namun ia sudah merampungkan studi S-3 nya, pun dengan nilai yang amat memuaskan. Bahkan selama studi, Miftakhul Huda tak pernah mengeluarkan kocek sendiri, karena kesemuanya ia raih dengan beasiswa penuh. Setelah tamat kuliah, Miftakhul Huda langsung bekerja sebagai Postdoctoral di bawah Japan Society for the Promotion of Science (JSPS). Namun pada tahun 2015, ia pindah bekerja di NBC Meshtec Inc. yang ternyata hanya sampai tahun 2016. Kini, ia bekerja sebagai peneliti di Tokyo Institute of Technology program ERATO.

Sebagai peneliti, Miftakhul Huda banyak berkonsentrasi pada penelitian sel matahari, yakni meneliti proses pembuatan sel matahari generasi ketiga, generasi terbaru yang menurutnya menjanjikan, namun masih belum menampakkan hasil yang signifikan sampai saat ini. Sebenarnya ia sudah mulai mengerjakan penelitian mengenai sel matahari sejak masih duduk di semester 4 di program S-1nya. Ia sangat tertarik pada sel matahari karena menurutnya matahari adalah salah satu sumber energi paling banyak di alam semesta dan aman untuk lingkungan. “Suatu saat nanti Indonesia akan memerlukannya,” kata pria yang senang dengan menu ikan bakar dan lalapan ini.

Bagaimanapun, keberhasilan studi Miftakhul Huda tentu tak lepas dari peran keluarga, terutama ayah dan ibunya. Meski ayahnya tak pernah mengecap pendidikan di sekolah, namun ayah maupun ibunya memiliki kesadaran dan motivasi tinggi untuk senantiasa mendorong anak-anaknya rajin dan serius dalam mengemban tugasnya di sekolah. Walhasil, Miftakhul Huda dan adik-adiknya pun memiliki kesadaran yang amat tinggi tentang pentingnya sekolah. Terbukti, sepanjang bersekolah, mereka tak pernah sekalipun tidak masuk sekolah. Bahkan meski merasa sedikit tak enak badan, mereka tetap berangkat ke sekolah. “Saya katakan pada mereka, selama bersekolah dan selama masih bisa belajar, jangan pernah rewel. Kecuali memang sudah tidak bisa jalan. Makanya, anak-anak saya semua seperti itu. Bahkan meskipun hari sedang hujan, mereka tetap berangkat sekolah atau mengaji,” kata Suparno.

Ia mengaku tak pernah memaksa anak-anaknya untuk harus belajar setiap hari. Tak pernah pula menghukum dengan kekerasan fisik maupun kata-kata kasar. Namun ia telah berhasil menanamkan kesadaran yang timbul dalam diri anak-anaknya sejak dini mengenai pentingnya pendidikan. “Saya tidak pernah memaksa anak di rumah harus belajar, mengerjakan pekerjaan rumah, atau membatasi jam menonton tivi. Anak-anak bebas melakukan apa yang mereka kehendaki, tapi mereka rupanya sudah memiliki kesadaran tinggi tanpa saya harus menuruh. Mereka sudah jalan sendiri-sendiri,” katanya. Ia memahami bahwa masing-masing anak memiliki pola belajar sendiri-sendiri yang sebaiknya tak usah dipaksakan oleh orangtua. Seperti misalnya Miftakhul Huda, yang lebih senang belajar jam 02.00 dini hari hingga menjelang pagi. Suparno juga bercerita, bahwa meskipun di lingkungan sekitarnya sedang mengadakan keramaian seperti pertunjukan orkes atau pesta 17 Agustusan, anak-anaknya tak pernah tertarik untuk ikut larut dalam keramaian, melainkan lebih memilih tinggal di rumah dan belajar. “Padahal saya tidak pernah melarang,” katanya.

Saat ditanya apa kuncinya dalam melahirkan anak-anak yang sangat pengertian, sang ibu menceritakan bahwa semenjak kehamilan anak-anaknya, ia sudah gemar melafalkan doa-doa maupun shalawat nabi. Dan saat ditanya apakah barangkali ada makanan khusus yang diberikan untuk anak-anaknya, Suparno hanya tertawa lebar. “Tiap pagi mereka makan nasi Megono (nasi khas Pekalongan), tempe goreng, dan kerupuk, hahahaa...” ujarnya.

Sebagai orangtua dari kalangan sederhana, Suparno dan Tunas Setiawati impiannya tak pernah muluk mengharapkan anak-anaknya meraih kesuksesan setinggi-tingginya, melainkan hanya berusaha mengarahkan mereka untuk bersemangat dalam pendidikan dan membimbing mereka menjadi manusia yang sebaik-baiknya. Jika ada salah satu anaknya, misalnya seperti Miftakhul Huda yang sekarang sudah sukses di negeri Sakura, itu semua sudah di luar perkiraannya. Yang jelas, Suparno dan Tunas Setiawati menganggap bonus tersebut sebagai berkah yang sangat disyukurinya.

Meski demikian, kesuksesan anak-anaknya pun tak lepas dari andil doa orangtua. Demikian pula anak-anak Suparno dan Tunas Setiawati. Bahkan menurut Tunas, setiap kali hendak menghadapi ujian atau perlombaan, Miftakhul Huda selalu meminta doa restunya. Di samping itu, setiap kali anak-anaknya menghadapi ujian atau perlombaan, Tunas pun selalu menunaikan puasa. Salah satu contohnya ketika Miftakhul hendak menghadapi ujian demi meraih beasiswa S-3, ia mengatakan pada ibunya, “Doain ya, Mak, nanti kalau diterima, saya kasih hadiah,”. Rupanya Tuhan mengabulkan doa ibu dan anak tersebut, sehingga Miftakhul Huda pun lulus diterima di program S-3. Dan sesuai janjinya, ia pun membelikan keluarganya sebuah rumah sederhana di daerah Setono (Pekalongan), dekat dengan masjid, sebagai hadiah. Berkat bantuan dari Miftakhul Huda, keluarga Suparno pun tak perlu lagi mengontrak rumah, karena kini mereka sudah memiliki rumah sendiri.

Kini, 11 tahun sudah Miftakhul Huda berada di Jepang. Ia menetap di Yokohama, salah satu kota di negeri yang terkenal dengan etos kerja kerasnya ini. Ia merasa cukup betah berada di Jepang, meski tak ubahnya seperti orang Jepang pada umumnya, ia pun harus mengikuti etos kerja keras mereka. “Jepang masih kuat budaya kerja kerasnya, sehingga banyak ayah yang harus lembur sampai larut malam tiap hari, yang membuat mereka kekurangan waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Tapi kehidupan keluarga Jepang sangat teratur. Hampir semua kegiatan maupun hiburan tutup sejak jam 10 malam. Anak-anak juga tidak diperbolehkan menggunakan fasilitas publik tanpa ditemani orang dewasa saat malam hari. Tapi di hari libur, tempat rekreasi dan hiburan penuh dengan orang tua yang membawa anak-anaknya berlibur,” kata pria yang senang makan sushi, tempura, dan suka maen ski saat musim dingin ini. Sekarang, Miftakhul Huda bahkan telah memboyong istrinya, Anggita Aninditya Prameswari Prabaningrum, wanita kelahiran 17 Oktober 1990 asal Jakarta. Dari buah perkawinan tersebut, mereka dikaruniai seorang puteri yang diberi nama Arsyalesha Sachiko Prabazunaik,  yang lahir di Tokyo pada 20 November 2015.

Gita, demikian panggilan dari istri Miftakhul Huda, mengatakan bahwa suaminya adalah sosok pekerja keras, tekun, aktif berorganisasi dan senang mencari pengalaman, penyayang, serta bertanggung-jawab. Di samping itu, suaminya pun selalu giat  menambah pengalaman dan kemampuannya melalui konferensi internasional, menulis paper, menjadi pembicara, dan lain sebagainya. Tak pelak jika Gita demikian kagum pada sosok suaminya.

Di samping itu, ia pun menceritakan awal perkenalannya dengan sang suami, yakni sekitar tahun 2012 lampau. “Saya berteman dulu di facebook karena kami punya banyak mutual friends. Kemudian kami menjalani LDR (long distance relationship) hingga akhirnya kami menikah di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta, pada 19 Oktober 2014. Saya ikut pindah ke Jepang pada bulan November 2014,” kisahnya.

Selama berada di Jepang mengikuti suami, Gita pun tak menyia-nyiakan waktunya begitu saja. Ia sempat mengambil kuliah di Tokyo International Exchange College. Namun karena kemudian mereka pindah rumah dan juga kesibukan barunya sebagai ibu, maka Gita pun mengalah untuk lebih mengutamakan mengurus bayinya di rumah. “Tapi saya berencana untuk melanjutkan studi di kampus bahasa yang tak jauh dari sini,” kata wanita yang sebelumnya berpengalaman sebagai graphic designer dan copywriter ini.

Meski berada cukup jauh dari keluarga di Indonesia, namun Miftakhul Huda maupun istrinya tak pernah melupakan keluarga. Berkat kemajuan zaman, rentang jarak yang bermil-mil jauhnya pun dapat dipersingkat dengan teknologi. Miftakhul Huda kerap menelpon ayah dan ibunya atau berbicara melalui sambungan videocall paling tidak seminggu sekali. “Tapi semenjak sudah punya bayi, sekarang malah lebih sering. Biasanya 2 atau 3 hari sekali menelpon,” kata Tunas, sang ibu. Sebelum menikah, Miftakhul Huda juga cukup rutin pulang ke Indonesia, sekitar setahun atau dua tahun sekali. Terlebih jika kebetulan ia memiliki agenda acara di Indonesia, maka ia pasti sempatkan mampir pulang ke Pekalongan.

Suparno dan Tunas Setiawati merasa sangat bangga karena putera sulungnya telah meraih kesuksesan dalam studi dan pekerjaan, pun telah berkeluarga. Tunas Setiawati sempat berkunjung ke Jepang saat kelahiran cucu mereka. Ia sangat senang berkunjung ke Jepang, sebuah negara yang menurut mereka cukup bagus. “Di sana negaranya disiplin sekali, tapi sangat bersih dan rapi. Anak-anak yang kuliah disana pakaiannya juga sangat rapi, tidak ada yang pakai kaos oblong,” komentarnya.

Sebagai orangtua, sebenarnya ada pula keinginan untuk dekat dengan anak-anaknya. Suparno sempat menyelipkan harap, bahwa suatu saat nanti Miftakhul Huda memiliki kesempatan untuk bekerja di Indonesia. “Meski begitu, saya tidak akan pernah memaksa anak. Terserah dia mau kerja dimana dan menjadi apa. Yang penting, mereka harus menjadi pribadi yang jujur dan tak pernah meninggalkan shalat 5 waktu,” pungkasnya. ***


Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Majalah Keluarga (Kemendikbud)




Mengkreatifkan Guru 3T Dengan PAIKEM

Mengkreatifkan Guru 3T Dengan PAIKEM

“Ternyata ilmu-ilmunya menarik sekali ya, Bu...” komentar Ayyub, S.Pd., Guru SD Negeri 11 Kota Sabang usai mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Kurikulum 2013 Berbasis Paikem. Padahal sebelumnya, pada hari pertama Bimtek, ia sempat berkeluh kesah dan nyaris mengundurkan diri karena merasa tidak enak badan. Pria yang sudah 28 tahun menjadi guru ini mengidap sakit maag akut yang kadangkala menyiksa. Namun usai pelaksanaan Bimtek, Ayyub justru merasa beruntung dang sumringah karena terpilih menjadi salah satu peserta Bimtek Kurikulum 2013 Berbasis Paikem ini. Banyak sekali ilmu-ilmu berguna dan inspirasi pembelajaran yang ia dapat, yang ia yakin akan sangat bermanfaat ketika diterapkan saat ia mengajar murid-muridnya.

Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 Berbasis Paikem ini merupakan program tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Profesi Pendidik (Pusbangprodik), Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK-PMP), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sasarannya adalah guru-guru yang berada di kawasan 3T (Terluar, Tertinggal, Terdepan).  Pada tahun 2015 ini, Bimtek Kurikulum 2013 berbasis Paikem ini dilaksanakan di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau pada tanggal 27 – 29 Mei 2015, Kota Sabang, Nangroe Aceh Darussalam pada tanggal 9 – 11 Juni 2015, dan Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat pada tanggal 9 – 11 Juni 2015.



Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 Berbasis Paikem di Kota Sabang sendiri dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Sabang, Drs. Misman, dan Eddy Tejo Prakoso Slamet, SH., MM., Kepala Subbagian Tata Usaha Pusbangprodik. Sedangkan Bimtek yang diselenggarakan di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat dibuka langsung oleh Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., kepala Pusbangprodik.   

Paikem Lebih Menarik
Latar belakang diadakannya Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 berbasis Paikem ini adalah karena konsep pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan (Paikem) ini dipandang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah di Indonesia. Penyusunan konsep tersebut dilakukan sejak tahun 1998, seiring dengan semangat desentralisasi pemerintahan. Sedangkan pengembangan, sosialisasi, dan implementasi konsep tersebut dilakukan bersama antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten/kota dan lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yakti UNICEF dan UNESCO maupun beberapa Non-Government Organizations (NGO). Hingga saat ini, Paikem telah menjadi bagian dari kebijakan peningkatan kualitas pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun mengingat luasnya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka konsep tersebut mengalami keterlambatan untuk dikenal dan diterapkan di sekolah dasar yang tersebar di perbatasan wilayah NKRI. Selain kendala posisi geografis yang boleh dikatakan terisolir, juga sumber daya yang dimiliki di setiap wilayah beragam. Hal ini mendorong baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten/kota menciptakan strategi yang berbeda untuk wilayah berbeda dalam meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah tersebut. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Pengembangan Profesi Pendidik telah menyediakan anggaran untuk memberikan bimbingan teknis Kurikulum 2013 Berbasis Paikem di wilayah tersebut dan menerapkan Paikem.

Mengkreatifkan Sabang
Majalah Profesi Guru berkesempatan meliput pelaksanaan Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 Berbasis Paikem di Kota Sabang. Perjalanan dimulai dari Jakarta bersama 10 (sepuluh) orang panitia Pusbangprodik dan 4 (empat) narasumber nasional yang akan menjadi fasilitator Bimtek. Mereka antara lain Durori, S.Pd, Guru SD Negeri 2 Kecila, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Suhardi, S.Pd, Pengawas TK/SD Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Eni Wahjuni, S.Pd., M.Pd., Pengawas TK/SD Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, dan Siti Maria Ulfa, Guru SD Negeri Kebon Dalem, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Mereka adalah para narasumber yang sangat berpengalaman dalam pembelajaran berbasis Paikem dan juga telah kerap menyebarkan ilmunya ke berbagai pelosok Indonesia.

Kota Sabang, wilayah perbatasan Indonesia paling barat yang memiliki gugusan pantai yang amat indah menawan memiliki 25 sekolah dasar, 11 sekolah menengah pertama, dan 8 sekolah menengah atas, berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Sabang, Drs. Misman. Total ada sekitar 800-an guru dari tingkat TK hingga SMA. “Jumlah guru SD sudah mencukupi, bahkan kita kelebihan guru untuk mata pelajaran tertentu. Tapi jumlah guru TK malah kurang,” ungkap Kadinas Pendidikan.

Kondisi kota seluas 153 km2 ini sudah cukup baik, dengan tata kota yang terlihat rapi dan indah, jalanan yang hampir sebagian besar sudah mulus, serta kondisi sekolah-sekolah yang sudah terpenuhi fasilitas primernya. Kendati demikian, Sabang dipilih sebagai kota tempat diselenggarakannya Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 Berbasis Paikem dikarenakan letaknya yang berada di titik paling barat Indonesia. Meski sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai pegawai, namun menurut pantauan Majalah Forum Tendik melalui keterangan para guru, wawasan para orangtua murid masih terbatas. Hal ini pun mempengaruhi para murid; mereka menjadi kurang bersemangat dalam belajar di sekolah.

Sekolah-sekolah di Kota Sabang termasuk bagian dari sekolah yang diinstruksikan kembali ke Kurikulum KTSP (2006). Tak heran jika pengetahuan dan pemahaman para guru mengenai Kurikulum 2013 kurang mendalam, dikarenakan mereka hanya mengecap Kurikulum 2013 selama satu semester saja. Kendati demikian, ada berbagai pendapat dan komentar mengenai Kurikulum 2013, seperti yang diutarakan oleh Farida, S.Pd., Guru di SD Negeri 01 Kota Sabang. “Awal mulanya, Kurikulum 2013 ini sempat menjadi beban. Apalagi buku-buku pelajarannya datang terlambat. Orangtua siswa pun sulit untuk memahami konsep dari Kurikulum ini karena wawasan mereka sedikit. Mereka sering mengeluh karena mereka tidak bisa membantu anak-anak mereka dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Bagi guru, beban terberat adalah di penilaian,” ungkapnya.

Farida telah menjadi guru sejak tahun 2002 dan selalu mengajar di kelas satu. Sekolah tempatnya mengajar, meski terletak di pinggiran kota, tapi merupakan SD terfavorit se-kecamatan. Saat ini, jumlah siswa di SD Negeri 01 Kota Sabang sebanyak 360 murid, dan jumlah guru PNS sebanyak 22 orang.

Farida mengaku sebelumnya pernah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013 yang diselenggarakan di Banda Aceh. Namun usai mengikuti Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 Berbasis Paikem ini Farida merasa optimis dengan pembelajaran Kurikulum 2013, dan ia pun tak sabar untuk menerapkan pembelajaran berbasis Paikem di kelasnya.

Sedangkan Teanggor Sianturi, S.Pd., guru SD Negeri 04 Kota Sabang juga mengaku sempat  merasa kesulitan dalam menerapkan Kurikulum 2013. “Di Kurikulum 2013, wacana-wacana yang ada di tiap tema pembelajaran sangat sedikit, dan menuntut siswa untuk mencari sendiri tambahannya, misalnya melalui internet. Sedangkan kendala di sini, dikarenakan wawasan orangtua yang sempit, tidak memberi kebebasan anaknya untuk berselancar dengan internet karena takut disalahgunakan. Di samping itu, saya merasa bahwa seringkali antara tema satu dengan tema selanjutnya sama sekali tidak berhubungan, sehingga pengetahuan yang didapat oleh siswa menjadi kurang mendalam. Kendala lain dari Kurikulum 2013 adalah di penilaian. Kami harus bekerja keras membuat deskripsi untuk penilaian anak, sehingga kami justru tidak fokus dalam mengajar,” kata ibu empat anak yang telah menjadi guru sejak tahun 1985 ini.

 Di SD Negeri 04 Kota Sabang, Teanggor mengajar di kelas lima dengan siswa sebanyak 32 murid. Sedangkan total siswa di SD Negeri 04 Kota Sabang sebanyak 196 siswa. Menurut Teanggor, kondisi sekolahnya sudah cukup memadai. “Hanya ruang kelasnya yang kurang, dan juga aula. Padahal kami berencana menambah jumlah siswa,” katanya.

Sementara Zulfata, Spd., guru SD Negeri 02 Kota Sabang, berpendapat bahwa kesulitan guru-guru di Sabang dalam menerapkan Kurikulum 2013 ini adalah dikarenakan mereka kurang diberi bekal dan pemahaman tentang Kurikulum 2013. “Saya sendiri sebelumnya hanya mengikuti satu kali pelatihan, itupun diadakan selama tiga hari. Jangankan kami, guru-guru yang mengikuti pelatihan selama lebih dari 10 hari saja kadang masih merasa bingung dengan implementasi Kurikulum 2013. Hal lain yang saya amati, kadangkala cara pembuatan RPP yang dicontohkan oleh tutor-tutor di pelatihan-pelatihan itu berbeda-beda, sehingga membuat kami bingung, mana yang paling benar. Namun yang saya suka dari Kurikulum 2013 ini, tas anak-anak jadi tidak lagi berat karena mereka hanya membawa buku sedikit. Namun yang paling berat dari Kurikulum 2013 ini adalah di penilaian dan pengisian raport,” ujarnya.

Zulfata telah 20 tahun menjadi guru. Di SD Negeri 02 Kota Sabang, ia mengajar di kelas lima. Sejak kecil, cita-citanya memang ingin menjadi guru karena ia senang bermain dan berinteraksi dengan anak-anak. Di SD Negeri 02 Kota Sabang, jumlah murid saat ini sebanyak 290 siswa, terdiri dari 12 rombongan belajar. Sedangkan jumlah guru sebanyak 32 orang. “Sekolah saya cukup ramai, dan itulah yang membuat saya betah,” ujar Pria kelahiran Banda Aceh, 10 Februari 1972 ini. Menurut Zulfata, dalam mengajar, guru pun harus memahami psikologi anak. Jika anak sudah terlihat bosan, Zulfata sering mengajak anak-anak ke luar kelas, bernyanyi, atau meregangkan otot-otot sejenak sebelum kembali belajar.

Sedangkan Ayyub, S.Pd., yang adalah guru di SD Negeri 11 Kota Sabang sempat merasa bingung dan tidak mengerti mengapa dirinya ditunjuk untuk mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis ini. Pasalnya, ia adalah seorang guru Pendidikan Jasmani dan Olahraga di sekolah yang terletak di kecamatan Sukakarya ini. Namun berkat saran panitia yang memintanya untuk tetap mengikuti rangkaian kegiatan hingga usai, pria yang sudah 28 tahun menjadi guru ini kemudian justru merasa sangat tercerahkan setelah menyerap banyak ilmu dari narasumber. Ia juga tak sabar untuk menularkan ilmu-ilmu tersebut pada rekan-rekannya di SD Negeri 11 Kota Sabang.

SD Negeri 11 Kota Sabang sempat menjadi sekolah percontohan sebelum digulirkannya Kurikulum 2013. “Sekolah saya merupakan sekolah gugus. Jadi termasuk sekolah favorit,” kata Ayyub. Jumlah siswa di SD Negeri 11 Kota Sabang ini sebanyak 166 murid dengan jumlah guru sebanyak 20 orang. Menurut Ayyub, kendala yang dihadapi saat menggunakan Kurikulum 2013 adalah karena masih banyak guru-guru yang belum ditatar dan mengikuti pelatihan. “Mungkin kalau gurunya ditatar semua, bisa kami terima. Saya sendiri juga belum pernah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013,” ujarnya.  

Menyerap Ilmu dari Narasumber
Namun dengan kegiatan Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 Berbasis Paikem ini, diharapkan ke-80 guru-guru se-Kota Sabang yang menjadi peserta mampu menjadi pilot, terutama bagi rekan-rekannya yang lain untuk membagi ilmu yang telah didapatkan, baik itu di lingkungan sekolah maupun di forum KKG. Kegiatan Bimtek yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut ini telah dirancang secara sistematis dengan berbagai topik seputar pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Materi-materi dibawakan oleh narasumber-narasumber nasional yang telah berpengalaman di bidangnya, baik materi maupun praktek.

Seperti Suhardi, S.Pd., salah satu narasumber nasional yang membawakan materi karakteristik mata pelajaran. Ia adalah seorang pengawas TK/SD dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso dan telah kerap menjadi fasilitator pada berbagai kegiatan Pusbangprodik sejak empat tahun lalu. Oleh karena itu, ia telah berpengalaman berjumpa dengan guru-guru di berbagai daerah nusantara, seperti di Sumba, Sambas, Waingapo, dan sebagainya. Sebelumnya, ia pernah meraih prestasi sebagai Juara I Guru Berprestasi Tingkat Nasional pada tahun 1995.

Setelah selama tiga hari menjadi narasumber bagi guru-guru SD di Kota Sabang, Suhardi berpendapat bahwa sebenarnya sebagian besar guru-guru tersebut antusias mengikuti materi. “Rupanya apa yang kami sampaikan itu adalah barang baru bagi mereka, sehingga mereka antusias. Hal ini terlihat misalnya ketika saya memberi tambahan materi pada sesi yang sudah bukan jamnya dengan menambah satu jam, ternyata mereka tidak keberatan. Berarti materi yang saya sampaikan adalah yang mereka butuhkan,” katanya.

Namun supaya ilmu-ilmu yang telah diberikannya benar-benar dimengerti dan dipahami dan terasa manfaatnya, menurutnya, yang perlu dilakukan oleh guru-guru tersebut adalah segera mempraktekkan ilmu yang diperoleh di Bimtek ini di sekolah. “Mereka juga harus menggerakkan kegiatan ini melalui KKG sehingga ketika mereka berkumpul, mereka bisa mendesain RPP bersama, mendesain soal yang baik bersama, atau mendesain lembar kerja bersama. Jadi selain mengaplikasikan ilmu di dalam kelas pembelajaran mereka masing-masing, mereka juga membahas seluruh kajian-kajian yang ada di KKG untuk lebih memantapkan hasil pelatihan,” tuturnya.

Menurutnya, pada umumnya karakter guru di daerah terpencil relatif sama. Mereka berpikir pada tataran kebutuhan yang terbatas. “Ketika mereka diajak berkreatifitas lebih tinggi, sepertinya ada titik yang menghambat mereka. Ketika kami mencoba mengenalkan yang lebih dari itu, mereka menganggap itu cukup berat. Nah, itulah yang kami dorong. Oleh karena itu, selama pelatihan ini, kami menekankan pada kreatifitas. Kami berharap materi kreatifitas dapat membangkitkan kreatifitas mereka. Kami berharap mereka dapat mengembangkan kreatifitas di KKG. Dengan bekal kreatifitas yang kami coba bangun lewat berbagai materi yang ada, maka kreatifitas mereka bangkit, dan mau menambah estimasi mereka,” terang pria yang diangkat menjadi PNS pada tahun 1979 ini.

Sementara itu, Moh. Durori, S.Pd., narasumber yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah ini berpendapat bahwa sebenarnya guru-guru di daerah 3T ini hanya kurang motivasi, yang menghambat kemajuan mereka dalam mengembangkan pendidikan. “Kalau mereka sering dimotivasi, karya mereka dihargai, dan mereka dibimbing dengan baik, mereka juga akan bisa. Tapi kalau guru terus-terusan melakukan rutinitas, mereka akan merasa bosan. Jika mereka terus berkreativitas dengan tujuan untuk membuat anak lebih senang dalam belajar, maka akan ada kontak batin dengan anak. Dengan demikian, lambat laun dia akan menikmati profesinya,” kata guru SD Negeri 02 Kecila, Banyumas ini.

Menurut Durori, guru-guru di Kota Sabang cukup antusias dalam mengikuti bimtek. “Mereka haus contoh-contoh inovasi. Mereka sebenarnya tahu, tapi mereka bingung bagaimana untuk mengembangkannya. Disini saya melatih mereka melalui beberapa media sebagai contoh untuk memotivasi mereka. Mereka sangat antusias karena apa yang saya sampaikan sesuai dengan karakter anak dan sesuai dengan bidang mereka mengajar di kelas. Bahkan salah satu guru sempat bercerita pada saya bahwa dia sudah mempraktekkan ilmu yang didapat pada anaknya sendiri, dan katanya anaknya sangat menyukainya. Ini membuatnya semakin tertantang dan bersemangat,” tuturnya.

Namun demikian, menurut Durori, ada pula guru yang masih kurang antusias dalam menerima ilmu. “Saya membedakan karakter guru-guru di sini berdasarkan usia. Untuk kelompok guru usia muda, terutama di kelas tinggi, mereka sangat antusias dan ingin segera mempraktekkannya. Namun untuk kelompok guru di kelas rendah yang usianya sudah tua, antusiasmenya kurang karena mungkin mereka merasa sudah berusia lanjut,” ungkap pria yang pernah memenangi juara I LKG Tingkat Nasional Tahun 2001 ini.

Sedangkan Siti Maria Ulfa, S.Pd., narasumber yang juga adalah guru SD Negeri Kebon Dalem, Mojokerto, Jawa Timur ini berpendapat bahwa kendala bagi guru-guru 3T adalah mereka tidak mudah dalam menerima perubahan. “Mengeluhnya itu yang didahulukan. Misalnya, pembelajarannya jadi repot, jadi ribet, dan sebagainya. Padahal setiap detik ilmu itu kan berkembang. Sedangkan masa depan anak kan tidak bisa disamakan dengan masa-masa kita dahulu. Ilmu pengetahuan juga berkembang. Pendidikan itu tidak berubah jika perubahannya tidak dimulai di sekolah. Nah, siapa yang akan mengubah pendidikan itu jika bukan guru?” tukasnya.

Salah satu materi yang dibawakan Ulfa adalah mengenai Kurikulum 2013. Sejauh ini, kendala yang paling sering dirasakan guru dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah soal penilaian, yang dirasa memberatkan guru. Namun menurut Ulfa, hal tersebut tidak seharusnya dijadikan hambatan, melainkan adalah tantang dalam memajukan pendidikan. “Kalau tidak terbiasa menilai dengan deskripsi memang sangat berat. Padahal setiap murid memiliki kemampuan yang berbeda. Nah, penilaian deskripsi itu sangat membantu untuk pelaporan pada orangtua, sehingga orangtua tahu sampai dimana kemampuan anaknya. Sedangkan beratnya penilaian itu bisa diselesaikan misalnya melalui forum KKG atau berkumpul dengan sekolah yang melaksanakan K13. Di tempat saya, forum KKG kami manfaatkan untuk menyiapkan format-format penilaian, sehingga guru nantinya tinggal mengisi saja. Itupun setelah sebelumnya dirundingkan terlebih dahulu dengan seluruh anggota KKG, kepala sekolah, maupun pengawas,” terang wanita yang telah menjadi guru kelas 1 SD selama 19 tahun ini.

Seorang narasumber lainnya adalah Dra. Eni Wahjuni, M.Pd, yang juga adalah pengawas TK/SD di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Ia telah kerap menjadi narasumber sejak tahun 2003 hingga sekarang. Telah banyak suka duka yang ia rasakan selama menjadi narasumber. “Senangnya, kalau di level yg sama bisa bertemu dengan orang-orang pintar, sehingga bisa sharing bersama. Tapi kalau di level seperti ini, dapat bertemu dengan guru, kepala sekolah, ataupun pengawas merupakan suatu kesempatan bagi saya untuk membantu. Selama ini mereka dipandang tidak mampu atau tidak mau berubah. Tapi menurut saya bukannya mereka tidak mau berubah, namun karena di saat mereka mau berubah, tidak ada yang membantu mereka. Untuk itulah, pelatihan ini adalah kesempatan kami membantu semaksimal mungkin memecahkan kesulitan-kesulitan mereka selama bertugas di lapangan,” tuturnya.

Kegiatan Bimtek Kurikulum 2013 Berbasis Paikem diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru-guru dalam melaksanakan pembelajaran berbasis siswa aktif, tematik terpadu, dan Paikem dalam pembelajaran. Selama tiga hari peserta mengikuti serangkaian kegiatan yang difokuskan pada kompetensi merencanakan pembelajaran, sehingga mereka mampu menerapkan hasil pelatihan di kelas masing-masing. Dengan bertambahnya wawasan, mereka mengetahui dan memahami  bagaimana seharusnya pembelajaran aktif di kelas dilakukan. ***


 Ditulis tahun : 2015
Diterbitkan di Majalah Profesi Guru (Kemendikbud)



Nafisah Ahmad : Sang Supermom, Ibu 10 Dokter

Nafisah Ahmad : Sang Supermom, Ibu 10 Dokter

Tak mudah menjadi single parent. Apalagi membesarkan dua belas anak. Namun bagi Nafisah Ahmad Zen Shahab, tantangan tersebut sudah lunas dipenuhinya. Kedua belas anak-anaknya sukses. Sepuluh orang di antaranya menjadi dokter.





Saya tidak mengarahkan anak untuk nantinya harus menjadi sesuatu, karena masa depan adalah mereka yang menjalaninya. Mereka lah yang memilih sendiri. Kalau kita paksakan, malah tidak bagus,”  kata Nafisah Ahmad saat ditanya bagaimana cara ia mendidik anak-anaknya hingga banyak yang menjadi dokter.

Dalam hal membesarkan anak, Nafisah adalah sosok panutan yang luar biasa. Betapa tidak, Di antara kedua belas anaknya, sepuluh di antaranya menjadi dokter. Mereka antara lain Dr. dr. Idrus Alwi, Sp.PD., KKV, FECS, FACC. spesialisasi di bidang kardiovaskular, drg. Farida Alwi menekuni bidang spesialisasi gigi, dr. Shahabiyah MMR menjadi Direktur RSU Islam Harapan Anda di Tegal, dr Muhammad Syafiq SpPD spesialisasi penyakit dalam, dr Suraiyah SpA membidangi spesialisasi anak, dr Nouval Shahab SpU spesialisasi Urologi, dan dr Isa An Nagib SpOT membidangi Ortopedi sekaligus Direktur Utama RS Siaga, Jakarta. Sedangkan dr. Fatinah adalah dokter umum yang menjabat wakil direktur RS Ibu Anak Permata Hati Balikpapan, dr. Zen Firhan adalah dokter umum di Balai Pengobatan Depok Medical Service dan Sawangan Medical Center, dan dr. Nur Dalilah dokter umum di RS Permata Cibubur.

Sementara dua anak lainnya, Durah Kamila (anak keempat) menjadi fashion desainer, dan Zainab (anak kedelapan) bekerja di Pemerintah Daerah Kodya Depok. Dulunya, Zainab sempat juga ingin masuk kedokteran, namun karena ia sempat sakit, maka ia pun gagal masuk kedokteran dan beralih ke teknik kimia.

Yang menjadi unik dan luar biasa, Nafisah dan suaminya sama sekali tak berasal dari kalangan keluarga dokter. Nafisah hanya lulusan SMA, dan suaminya seorang sarjana ekonomi. Mereka menggantungkan nafkahnya dengan berdagang batik yang juga membuka toko di Kota Palembang. Oleh karena itu, benar-benar sebuah perjuangan yang luar biasa dalam mengantarkan anak-anaknya hingga meraih cita-cita menjadi dokter. Berbagai tempaan hidup menghampiri, namun justru membuat Nafisah menjadi sosok yang kuat.

Cobaan yang dirasakan paling berat adalah ketika sang suami, Alwi Idrus Shahab, meninggal pada tahun 1996 silam. Saat itu, sudah ada empat anaknya yang ada di Jakarta dan sudah menikah. Sisanya masih sekolah. Kendati demikian, Nafisah berusaha bertahan dengan meneruskan usaha suaminya. Ia tak gentar, meski sebelumnya ia hanyalah ibu rumah tangga yang tinggal di rumah. “Sewaktu masih ada Bapak, Beliau sering cerita tentang pekerjaannya, dan saya pun sering ikut ke tanah abang untuk membeli barang. Jadi Alhamdulillah saya sudah memiliki bekal dan pengetahuan bisnis dari beliau,” katanya. Ia pun tak gentar meski pada saat itu, di sekitar lingkungannya masih belum mahfum jika perempuan harus bekerja. “Tapi saya tidak peduli, tidak menggubris omongan orang. Yang saya pikirkan dan usahakan adalah bagaimana meneruskan bisnis suami dan membesarkan anak-anak saya,” kisahnya. 

Disiplin yang Kuat
Kebahagiaan terbesar Nafisah tidak hanya disebabkan mereka telah menjadi dokter, tapi juga anak-anaknya menikmati profesi itu. Dia juga sayang kepada dua anaknya yang tidak menjadi dokter. ”Jadi dokter atau tidak, mereka anak saya. Yang penting mereka bahagia, saya sudah senang,” tuturnya dengan kalem.

Bagi Nafisah, ukuran kesuksesan seseorang tak semata berlimpahnya materi. Menurut wanita kelahiran 1 Agustus 1946 ini, sukses adalah mampu menjadikan anak-anaknya insan yang mandiri serta berakhlak baik. Oleh karena itu, baginya, mendidik dua belas anak itu susah-susah gampang. Namun semuanya berjalan dengan baik berkat nilai-nilai yang ia dan suaminya tanamkan sejak dini pada anak-anaknya.

Semuanya dimulai dari pembiasaan. Nafisah dan almarhum suaminya mencoba untuk membiasakan anak-anaknya disiplin yang ketat. Misalnya, saat anak-anak masih sekolah dan tinggal bersama, mereka harus kembali ke rumah sebelum adzan maghrib. Apa pun alasannya, tidak ada yang boleh keluar rumah hingga Isya. “Kecuali ada undangan yang benar-benar nggak bisa ditunda,” kata Nafisah. Bahkan kalaupun anak-anak ada acara dengan teman-temannya di malam hari, menurut Nafisah, mereka biasanya pulang dulu menjelang Maghrib. Kemudian setelah shalat Maghrib, mereka harus mengaji, diteruskan dengan belajar pelajaran sekolah.

Selain itu, kejujuran adalah hal yang paling prinsip yang ditanamkan pada anak-anak. Dimanapun berada, Nafisah selalu menekankan pada anak-anaknya untuk bersikap jujur, karena dengan sikap jujur, maka akan mudah diterima dimana saja. Selain itu juga Nafisah mengharapkan anak-anaknya untuk tidak sombong. “Meskipun jadi dokter, saya selalu tekankan untuk jangan pernah sombong. Profesi dokter adalah ladang amal, harus banyak saling membantu sesama manusia,” tuturnya.

Dalam mendidik anak-anaknya, Nafisah senantiasa mengingat untuk jangan pernah menggunakan cara kekerasan atau kata-kata yang tidak sopan. Menurutnya, anak merupakan titipan Tuhan yang harus dididik dengan baik. “Kalau anak memang melakukan kesalahan, sebaiknya dinasehati, bukannya dimarahi apalagi dihukum dengan kekerasan. Anak harus tahu kesalahan yang diperbuatnya,” kata nenek 34 cucu ini.

Komitmen pada Pendidikan
Sejak awal, Nafisah dan Alwi berkomitmen untuk mengutamakan pendidikan anak-anaknya. Semua fasilitas yang berhubungan dengan pendidikan dia penuhi, mulai dari buku hingga peralatan sekolah. Bukan tanpa sebab jika Alwi mengharapkan anak-anaknya memperoleh pendidikan tinggi. Ia tak ingin anak-anaknya menjadi seperti dirinya, seorang sarjana ekonomi yang terpaksa harus puas hanya dengan menjadi pedagang. Alwi tak memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi karena harus bekerja keras demi membantu adik-adiknya sekolah. Selain itu, prinsip Alwi dan Nafisah adalah, sebanyak apapun seseorang memiliki harta, namun jika tanpa ilmu, maka tidak akan berjalan baik. Terlebih jika dalam keluarga memiliki banyak anak.

Yang pertama kali ingin menjadi dokter adalah Idrus, si anak sulung. Berkat perjuangannya,  ia pun diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dia juga lah yang memotivasi adik-adiknya yang lain untuk menjadi dokter. Tiap mudik lebaran, Idrus bercerita panjang lebar tentang asyiknya kuliah di kedokteran kepada saudara-saudaranya. Adik-adiknya pun tergiur. Lulusan fakultas kedokteran tak bakal nganggur dan profesi dokter merupakan jasa yang selalu dibutuhkan masyarakat. Maka sejak itu, target utama adik-adik Idrus setelah lulus sekolah hanya satu, yakni kuliah di kedokteran. 

Si sulung pula yang merintis rumah sakit Permata Cibubur yang berdiri pada tahun  2003, bersama sejumlah kolega dokternya.  Saat itu, daerah Cibubur masih sepi. Rumah sakit itu bahkan menjadi rumah sakit pertama di daerah tersebut. Alhasil, beberapa  saudara Idrus yang lulus sekolah dokter pun diajak praktik di sana. 

Masuk Muri
Berkat prestasi langka itu, Museum Rekor Muri (Muri) pada Februari 2010 silam menganugrahkan keluarga asal Palembang, Sumatera Barat tersebut dengan gelar profesi dokter terbanyak dalam satu keluarga. Kini, 12 bersaudara itu tidak lagi bermarkas di Palembang seperti dulu. Di Jakarta ada delapan orang, sedangkan di Palembang ada dua orang. Nafisah kerap tinggal bersama si sulung atau kadang bergantian ke rumah anak-anaknya yang lain. Meski demikian, setiap tahun Nafisah menyempatkan pulang ke Palembang untuk bersilaturahmi atau mengadakan haul/doa bersama untuk almarhum suami.

Di usianya yang sepuh, Nafisah masih tampak sehat. Ia senang sekali mengobrol dengan siapapun dan senantiasa ceria. Termasuk ketika menceritakan kisah dirinya membesarkan 12 anak hingga menjadi orang sukses seperti sekarang. Ia juga mengatakan senang dengan anak-anak. Oleh karena itu, Nafisah tak pernah sekalipun berkata atau bersikap kasar pada anak. Ia pun bahkan dekat dengan cucu-cucunya.

Kendati merasa bahwa tugas yang diemban sebagai ibu sudah tuntas, Nafisah masih bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Namun, tanggung jawab tersebut sekarang berbeda dengan yang diembannya saat buah hatinya masih anak-anak. Kini dia cenderung hanya mengamati anak-anak dan cucu-cucunya. Kalaupun ada persoalan dalam keluarga, anak-anak lah yang biasanya mendatangi Nafisah untuk curhat. Yang bertempat tinggal dekat langsung datang, sedangkan yang jauh menyempatkan diri untuk menelepon. Nafisah dengan telaten akan mendengarkan keluh kesah mereka. Kendati demikian, perempuan murah senyum itu enggan mendikte anak-anaknya. ”Mereka kan sudah dewasa,” katanya, lantas tersenyum.

Kini Nafsiah sedang menikmati buah dari perjuangannya. Di saat senggang, ia senang menonton televisi, seperti melihat sinetron religi. Kadangkala juga ia senang berjalan-jalan bersama anak atau cucunya. Saat ada waktu  luang, ia dan anak dan cucunya seringkali pelesir ke luar negeri, mulai Malaysia, Australia, Singapura, Jerman, Italia, Jepang, Austria, Inggris, dan lain sebagainya. ***



Ditulis tahun : 2015
Diterbitkan di Majalah Keluarga (Kemendikbud)




Orangtua Wajib Terlibat

Orangtua Wajib Terlibat

Sekolah Al Falah, Jakarta Timur




Jika ingin menyekolahkan anak di Yayasan Al Falah Jakarta, syarat utamanya adalah, orangtua harus ikut Program Pelatihan Orang Tua (PPOT) selama tiga puluh empat hari.  

-------



Sebuah sekolah yang tampaknya baru dibangun, terletak di Jalan Raya Malaka, Kelurahan Cipayung, Jakarta Timur, terlihat ramai di pagi hari. Lapangan parkir penuh dengan kendaraan.  Anak-anak usia dini keluar dari mobil sembari menjinjing tas sekolah, sedangkan orangtuanya berjalan di sampingnya, mengantar hingga sampai di depan ruang kelas. Pemandangan demikian terlihat saban hari di Sekolah Al Falah, yang sebelumnya berlokasi di Jalan Kelapa  Dua Wetan ini. yang dipimpin oleh Drg. Wismiarti Tamin.

Saat ditemui Majalah Pendidikan Keluarga di kantornya, Drg. Wismiarti Tamin, pemimpin yang sekaligus pendiri Sekolah Al Falah berbagi sekilas mengenai pengelolaan pendidikan anak usia dini sekaligus kisah suksesnya dalam membesarkan sekolah yang telah berdiri sejak tahun 1996 ini. Kegelisahannya bermula sejak tahun 1994, dimana ia yang waktu itu masih bekerja untuk Pemerintah Daerah DKI Jakarta ingin segera mewujudkan sebuah sekolah yang benar-benar dapat menjadi pijakan bagi anak-anak usia dini untuk menuju insan dewasa yang benar-benar berkualitas tak hanya intelegensinya, namun juga emosional maupun spiritualnya.

“Kebetulan waktu itu berkat tugas saya itu membuat saya berkesempatan mengunjungi banyak negara. Saya pun melihat seperti apa sekolah-sekolah di Australia, Amerika, Eropa, dan sebagainya. Dibandingkan dengan sekolah di negeri sendiri, ternyata jauh sekali bedanya,” kisah wanita yang lahir pada tahun 1948 ini.

Wismiarti jatuh hati dan memutuskan untuk mengadopsi sistem Beyond Centre and Circle Time (BCCT) yang ditemukan oleh Pamela Phelps, Ph.D dan digunakan oleh Creative Pre School di Tallahasse, Florida, Amerika Serikat. Ia kemudian dipertemukan dengan Pamela Phelp, pendiri Creative Pre School, oleh Nadine Hoover, Ph.D, yang menjadi konsultan Sekolah Al Falah. Wismiarti sangat terkesan dengan pendidikan di Creative Pre School karena sekolah tersebut menjalankan nilai-nilai mulia seperti hormat, jujur, rajin, bertanggung jawab, kasih sayang, dan banyak lagi yang lainnya. Nilai-nilai tersebut dibangun melalui aktivitas harian.


Tahun 1996, Yayasan Al Falah resmi dibuka setelah mengirimkan beberapa guru untuk belajar di  Creative Pre School, Florida, Amerika Serikat. “Kalau boleh saya katakan, orang yang berani bikin sekolah itu adalah orang nekat. Padahal orangtua yang punya anak dua, tiga, atau empat saja heboh banget. Nah, ini malah kumpulkan banyak anak orang lain, dan pede banget bisa mendidik anak-anak tersebut dengan program yang mereka buat. Yakin nggak, sih, bahwa program ini bisa membuat hidup anak-anak tersebut menjadi lebih baik kala dewasa nanti? Seharusnya kan itu yang dipikirkan. Dan orang nekat ini kemudian dibantu dengan orang nekat lainnya, yakni para guru itu. Jadi, sekolah itu adalah kumpulan orang nekat, hahahaa...” tutur nenek dua cucu ini sembari tertawa.

Utamakan Peran Orangtua
Yang membuat Sekolah Al Falah berbeda dengan sekolah-sekolah lain antara lain adalah peran besar orangtua siswa selain sekolah itu sendiri. Di Sekolah ini, jangan harap orangtua dapat lepas tangan setelah mendaftarkan anaknya. Sekolah justru membantu membuatkan banyak program yang membuat orangtua musti terlibat dalam proses pendidikan anak.

“Semua anak yang ingin bersekolah di sini kita terima. Tapi yang kami pilih adalah orangtuanya. Kami  mencari orangtua yang mau bekerja sama dengan sekolah untuk mengurus anak mereka. Kalau mereka bisa meluangkan waktu, maka anaknya kami terima untuk bersekolah di sini. Kalau nggak bisa, ya tidak kami terima. Program kami tidak akan berhasil tanpa peran orangtua. Kami selalu sampaikan pada setiap orangtua yang masuk ke sini, secanggih apapun sekolah itu, tidak ada sekolah yang sanggup mendidik anak sendirian tanpa kerjasama dengan orangtua,” ujar mantan dokter gigi lulusan Universitas Indonesia ini.

Selain itu, Sekolah pun mewajibkan orangtua mengikuti Program Pelatihan Orangtua (PPOT) selama total tiga puluh empat hari, yang terbagi dalam beberapa tahapan. Di sana, orangtua akan diberikan banyak pengetahuan bagaimana cara membuat program untuk anak dan saling berdiskusi. Bahkan seringkali ajang diskusi tersebut sampai lewat waktu Maghrib saking antusiasnya para orangtua berdiskusi. Selain itu, orangtua pun akan melakukan observasi, yakni mengamati kegiatan belajar mengajar di sekolah atau bermain seperti layaknya anak-anak.

Eka Windiningsih, salah satu orangtua murid menuliskan kesan-kesannya saat mengikuti PPOT di Sekolah Al Falah. “Selama mengikuti PPOT, banyak sekali hal yang membuat saya tertampar, tertegun, dan tersadar bahwa saya butuh banyak belajar untuk menjadi orangtua yang baik. Di pelatihan itu kami dibawa untuk menyadari bahwa semua anak terlahir dengan fitrahnya masing-masing. Tugas para orangtua adalah mendampingi mereka tumbuh sesuai fitrahnya dan tentu saja harus bisa menjadi pendamping terbaik bagi mereka. Program ini banyak sekali membawa perubahan pada diri saya,” ulasnya.

Menurut Wismiarti, tanggung jawab anak termasuk pendidikannya ada di tangan orangtua, dan bukan sepenuhnya di tangan guru. Sekolah hanya bersifat membantu. Oleh karena itu, orangtua dan pihak sekolah harus saling sinergi supaya apa yang disampaikan pada anak di sekolah dan di rumah bisa sejalan, sekaligus supaya orangtua senantiasa dapat memonitor perkembangan anak dengan baik. Sekolah juga senantiasa menyarankan supaya orangtua harus selalu ada di rumah ketika anak pulang sekolah.  

Bahkan saat anak menyelesaikan jam sekolahnya, sekolah sangat menyarankan supaya orangtua lah yang menjemput anak-anaknya, entah itu ayah atau ibunya. “Anak yang dijemput orangtua dengan anak yang dijemput pengasuh atau sopirnya itu perbedaannya sangat besar.  Bahkan akhirnya banyak orangtua mulai merasakan perbedaannya. Perkembangan anak yang dijemput oleh orangtuanya sendiri jauh lebih cepat. Kehadiran orangtua bagi anak itu sangat penting, bahkan hingga mereka akan tidur malam dan memulai aktivitas di pagi hari,” jelasnya.

Belajar dari Nilai-Nilai Al Quran
Kurikulum yang dipakai di TK Al Falah juga memasukkan nilai-nilai Alquran, supaya nantinya anak-anak dapat tumbuh dengan sikap yang diteladani dari Alquran. “Kami ingin mempersiapkan mereka untuk hidup sebagai umat Islam yang rahmatan lil alamin. Jadi, kemanapun dia pergi, orang-orang di sekitar dia merasa nyaman dengan dia. Selain itu, kami pun ingin membangun skill beragama mereka. Alquran tidak sekadar dihapalkan, tetapi harus mampu dipakai atau diterapkan dalam hidupnya,” tambahnya.

Dalam proses pembelajaran, nilai-nilai pengetahuan banyak diselipkan melalui kegiatan bermain. Misalnya pada kegiatan recalling, anak harus bercerita apa yang dia lakukan tadi. Gurunya harus betul-betul fokus mendengarkan dan juga harus mengetahu si anak tadi bermain apa, supaya guru bisa betulkan kalau dia salah. “Itu adalah dasar dari membangun kejujuran,” kata Wismiarti.

Metode Sentra
Kegiatan pembelajaran di TK Al Falah menggunakan metode sentra. Metode ini dapat melatih anak untuk menjadi lebih fokus. Selain itu, berbagai ilmu dan informasi yang diberikan dapat masuk ke otak anak secara sistematis, terprogram rapi, dan terklasifikasi dengan baik, sehingga nantinya struktur berpikirnya rapi.

Fasilitas sarana dan prasarana sekolah pun cukup lengkap, membuat anak justru merasa betah meski jadwal sekolah mereka cukup panjang, yakni dari jam 07.00 wib – 13.30 wib. Sekolah Al Falah sendiri sengaja tidak menampung terlalu banyak murid supaya pembelajaran semakin efektif. Di jenjang TK, satu guru mengajar 10 anak. Sedangkan jumlah siswa TK keseluruhan saat ini sekitar 52 anak saja.


Putri, 55 tahun, salah satu orang tua murid mengatakan bahwa metode sentra yang ada di Sekolah Al Falah sangat menarik bagi anak-anak. Ia juga sangat mengapresiasi tim guru di Sekolah Al Falah yang sangat kompeten dalam menangani anak-anak. Hal ini terbukti dengan dirasakannya kemajuan yang signifikan bagi anaknya, Fiani, yang adalah salah satu siswa berkebutuhan khusus.  “Tetangga saya lah yang merekomendasikan supaya anak saya yang berkebutuhan khusus ini masuk ke Sekolah Al Falah. Sekarang sudah tiga tahun di  sini, dan anak saya betah sekali. Guru disini memiliki bekal pengetahuan yang baik dan membuat anak merasa lebih nyaman,” katanya.

Saat ini, Sekolah Al Falah telah memiliki jenjang pendidikan yang lebih lengkap, mulai dari baby house, play group, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas. Sejak usia dua bulan, anak sudah dapat bersekolah di Sekolah Al Falah. Hanya saja, untuk bayi, kuota dibatasi, menyesuaikan tenaga pendidik yang ada. Bagaimanapun, prioritas utama Sekolah Al Falah adalah kualitas. Oleh karena itu, untuk kelas bayi, satu guru maksimal hanya memegang tiga anak. Belum lagi jika ada anak berkebutuhan khusus, maka kuota murid pun harus dikurangi untuk mengoptimalkan perhatian.

Guru yang Berkualitas
Di Sekolah Al Falah, semua guru juga harus memiliki pengetahuan untuk menangani anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, setelah lulus dari perekrutan, guru harus terlebih dahulu mengikuti program training selama sembilan bulan. Usai mengikuti program training, calon guru tersebut akan menjadi asisten guru terlebih dahulu selama kurang lebih dua tahun, baru kemudian diangkat menjadi guru. Para guru tersebut berasal dari beragam latar belakang dan disiplin ilmu. Bahkan ada pula guru yang sebelumnya berprofesi sebagai dokter. Saat ini, jumlah total 43 guru yang mengajar di Yayasan Al Falah, sudah termasuk 16 guru yang mengajar di jenjang taman kanak-kanak.

Sekolah Al Falah senantiasa memberikan tempat dan kesempatan bagi guru-gurunya untuk menjadi lebih baik. Para guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan ke Florida atau di sekolah-sekolah terbaik lainnya di berbagai negara. Guru juga berkesempatan mendapatkan fasilitas tempat tinggal di kompleks yang telah disediakan. Sekolah senantiasa berupaya sedapat mungkin menyejahterakan dan meningkatkan guru dari sisi kualitas kompetensi maupun penghidupan. Wismiarti berpendapat bahwa seharusnya gaji guru itu lebih tinggi dari semua profesi yang lain. “Di pendidikan, kita membangun otak anak untuk hidup di masa depan. Itu kan pekerjaan yang luar biasa canggihnya. Nggak ada pekerjaan yang lebih canggih dari itu. Harusnya yang bisa melakukan itu adalah orang yang paling pintar. Nah kalau urusan otak ini dikerjakan oleh orang yang apa adanya, ya jadinya manusianya apa adanya,” katanya.

Selain itu, yayasan Al Falah juga membuka program magang untuk guru-guru dari sekolah lain yang ingin belajar atau menggali ilmu untuk kemudian diterapkan di sekolahnya masing-masing. Program ini berlangsung selama kurang lebih enam hari. Telah banyak guru-guru dari sekolah lain di berbagai penjuru Indonesia yang belajar di Sekolah Al Falah.

Saat ditanya tentang rencana ke depan, Wismiarti mengungkapkan bahwa ia sedang berupaya untuk mewujudkan mimpinya yang lain, yakni mendirikan sekolah tinggi guru. Menurutnya, sekolah ini nantinya akan benar-benar dapat mencetak guru yang sangat berkualitas. Terlebih untuk menyambut periode Indonesia Emas, membangun sekolah guru yang berkualitas adalah sebuah prioritas yang seharusnya segera diwujudkan. ***



Ditulis tahun : 2015
Diterbitkan di Majalah Keluarga (Kemendikbud)




Profil Juara : Jawara Berkat Bambolping

Profil Juara : Jawara Berkat Bambolping

Juara I Guru TK Berprestasi Nasional 2015
Erna Yuli Agustin, SPd. AUD.


Sosoknya tampak sederhana dan bersahaja. Dilihat dari pembawaannya, sangat terlihat bahwa guru TK Indriyasana Babadan Turi, Sleman, Yogyakarta ini sangat sabar dan juga ramah. Dia lah Erna Yuli Agustin, S.Pd. AUD, pemenang I Guru TK Berprestasi Nasional tahun 2015.
Lahir di Sleman, 31 Juli 1972, Erna memang telah memantapkan diri dengan cita-citanya menjadi guru bahkan sejak ia masih duduk di bangku SPG Negeri Yogyakarta. Saat itu, ia mulai memberikan les untuk anak-anak SD tanpa dipungut biaya. Hal itu dikarenakan jiwanya merasa terpanggil untuk membantu sesama. “Saya prihatin melihat anak-anak yang kurang mendapatkan bekal pendidikan dan pengasuhan yang benar untuk siap belajar di sekolah dasar.Orangtua mereka ekonominya pas-pasan dan berpendidikan rendah, sehingga tidak punya waktu untuk mendampingi anak-anaknya,” katanya.
Sejak itulah Erna mulai menikmati mengajar. Selain itu, ia juga sibuk membina Pramuka di salah satu SD di Yogyakarta. Ia pun aktif menjadi penggerak Sekolah Minggu di gereja. Demi memantapkan cita-citanya, lepas dari SPG Erna pun melanjutkan kuliah di IKIP Sanata Dharma. Tahun 1994, rupanya keberuntungan menghampiri Erna. Ia diterima sebagai PNS dan ditugaskan untuk mengajar di TK Indriyasana. Hari-harinya semakin sibuk; pagi hari menjadi guru TK, siang hari kuliah di IKIP Sanata Dharma. Saat itu, gaji pertamanya sebagai PNS adalah sebesar 88 ribu.

TK Indriyasana Babadan
TK milik yayasan katolik ini terletak di Babadan, Girikerto, Turi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terdapat dua sekolah yang terletak di dua lokasi yang agak berjauhan. Satu lokasi berada di kompleks masjid Ar-Rohmad, dan satu lokasi lagi berada di kompleks SD Tarakanita, Ngembesan. Satu kelas khusus untuk murid muslim, dan satu kelas lagi untuk murid katolik. “Oleh karena itu, jangan heran jika guru kristiani pun tahu dan hafal doa Islami,” kata Erna dengan antusias. Lokasi dan lingkungan TK Indriyasana yang berada di kompleks masjid cukup mendukung karena dekat dengan persawahan. Oleh karena itu, murid-muridnya terbiasa bermain lumpur di sekitar persawahan. Sedangkan murid-murid di TK Indriyasana yang berada di kompleks SD Tarakanita terbiasa bergaul dengan kakak-kakaknya yang lebih tua usianya, sehingga dapat melatih sosialisasi mereka.
Di TK Indriyasana, hampir sebagian besar latar belakang ekonomi orangtua siswa adalah golongan menengah ke bawah. Kondisi tersebut mempengaruhi mental anak, dimana anak di rumah kurang diperhatikan oleh orang tuanya. Murid seringkali mengalami kesulitan ketika harus bekerja sama karena di rumah tidak biasa bekerja sama. 

Bambolping
Salah satu inovasi Erna untuk melatih anak didiknya mengembangkan sifat dan sikap menjadi lebih baik adalah dengan menggunakan sebuah permainan yang disebut Bambolping atau Bambu Bola Pingpong. Menurutnya, permainan ini dapat membantu mengembangkan moral sosial dan emosional anak, khususnya pada materi kerjasama, kedisiplinan, kejujuran, taat aturan, sabar, antri menunggu giliran, serta sportivitas berani mengakui keunggulan teman di saat kalah. “Saya prihatin anak sekarang cepat marah, tidak sabar, kurang gigih, tidak mudah bekerja sama, kurang berani mencoba, dan kurang sportif. Oleh karena itu, saya membuat permainan kelompok agar anak saling bekerja sama, saling membantu, gesit dalam bermain, mau mengakui keunggulan kelompok lain, serta legowo atau berani menerima kekalahan,” tuturnya.
Cara bermain Bambolping ini cukup mudah. Murid cukup menggelindingkan bola secara estafet dan memasukkan bola ke dalam gelas. Dalam permainan ini, murid harus dituntut untuk sabar, hati-hati, teliti, dan harus bekerja sama dengan timnya. Dengan menggunakan Bambolping diharapkan pembelajaran lebih bervariasi dan siswa termotivasi untuk menjadi pribadi yang suka bekerja sama. Permainan sederhana ini dapat dipraktikkan di dalam maupun di luar kelas, pun dapat menciptakan suasana kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Siswa dapat belajar sambil  bermain dengan media ini.

Selain untuk mengembangkan moral sosial emosional, permainan ini pun bisa dipergunakan untuk pengembangan bidang lainnya, misalnya pengembangan bahasa (mengungkapkan kalimat sederhana, menggunakan dan dapat menjawab pertanyaan yang menggali informasi, dan sebagainya), pengembangan fisik (berjalan mundur, berjalan ke samping pada garis lurus sejauh 2 – 3 meter sambil membawa beban, berlari sambil melompat dengan seimbang tanpa jatuh), serta pengembangan kognitif (menunjukkan dan mencari sebanyak-banyaknya benda berdasarkan fungsi, menyebutkan dan menceritakan perbedaan dua buah benda, mengajak teman bermain, mengelompokkan benda tiga dimensi yang bentuknya sama, lingkaran, bola, segi empat, atau balok).
Berkat inovasi permainan ini dan performance-nya yang prima, Erna berhasil menyabet gelar juara I Guru TK Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2015. Sebuah pencapaian bergengsi yang tiada pernah disangka-sangkanya. Namun demikian, kini ia semakin termotivasi untuk lebih giat dalam berkarya serta mengabdikan diri membentuk generasi negeri. ***


Semangat Betawi melalui Tari Topeng

Semangat Betawi melalui Tari Topeng


Lebih dari selusin anak tampak luwes menggerakkan jemari, dan melenggak-lenggokkan tubuhnya mengikuti irama dan aba-aba dari Andi Supardi, sang guru tari di Sanggar Setu Babakan. Sebagian anak tampak berwajah serius dengan peluh di dahinya, sebagian tampak riang dan melempar-lempar senyum pada ibunya yang sedang menunggu di pinggir area latihan menari. Setiap hari Minggu pagi dan Rabu sore, Sanggar Setu Babakan selalu ramai oleh anak-anak yang belajar menari, khususnya tari Betawi.
Andi Supardi sendiri mulai mengajar di Sanggar Setu Babakan sejak tahun 2002. Saat ini, murid yang sedang dilatihnya mencapai lebih dari seratus orang. Pria berusia 52 tahun ini memang bertekad mendedikasikan dirinya hanya untuk melestarikan kesenian Betawi. Pasalnya, ia adalah keturunan generasi ketiga dari pendiri Topeng Betawi. Topeng Betawi adalah kelompok kesenian Betawi yang didirikan Raden Djiun bin Dorak dan Ibu Kinang pada tahun 1918. Raden Djiun adalah kakek Andi.
Orang-orang Topeng Betawi terkenal menguasai semua jenis kesenian Betawi, mulai lenong, teater, musik, maupun tarian. Andi yang seorang seniman memilih untuk terus melestarikan seni tari dan bertekad untuk menularkannya kepada generasi-generasi setelahnya. Bahkan ia telah mempersiapkan salah satu anaknya untuk menjadi generasi penerus setelahnya.
Bagi Andi, tari adalah hidup dan Betawi adalah identitas. Berkat menari, ia sudah melanglang buana. Sebut saja, Belanda, Cape Town, Jepang, Taiwan dan Chiang Mai Thailand. Namun, tak jarang juga dia dan rekan-rekannya harus menari keluar masuk kampung.
Andi membagi pembelajaran menjadi empat tingkatan. Tingkat pemula biasanya untuk anak-anak TK dan SD. Mereka akan dilatih tari sederhana, seperti Tari Ondel-Ondel dan Tari Tepuk Nyamuk. "Tujuannya cuma mereka dengar musik, kenal gerakan ondel-ondel gimana, lalu mereka suka. Cukup. Nanti gampang diajarin seterusnya," tuturnya. Jika pemula sudah cukup akrab dengan gerakan dan musik, Andi akan melanjutkan mengajar mereka ragam dasar, antara lain wiraga (sikap dan gerak), wirasa (menikmati musik) dan wirama (tempo dan hitungan musik). Biasanya, menurut Andi, untuk menyelesaikan tingkatan ini memakan waktu enam bulan hingga satu tahun.


Selanjutnya, peserta akan masuk ke tingkatan yang lebih sulit. Di tahap ini, Andi  mulai mengajarkan Tari Gegot yang menggunakan topeng. Setelah itu, barulah berbagai jenis tari Betawi yang cukup sulit, seperti Tari Ronggeng Blantek dan Tari Sirih Kuning. Tingkatan demi tingkatan dapat ditempuh setelah melalui penilaian khusus. Setiap enam bulan sekali akan diselenggarakan ujian bayangan untuk naik tingkatan.
Andi mengaku tak terlalu khawatir dengan perkembangan dan kemajuan jaman, karena sejauh ini ia melihat bahwa animo dan antusias masyarakat pada seni Betawi masih tinggi. Terlebih sejak Setu Babakan yang terletak di Kecamatan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan ini diresmikan oleh Pemerintah DKI Jakarta pada tahun 2004 sebagai kawasan cagar budaya Betawi. Kesenian Betawi selalu mendapat panggung sebagai aset wisata yang eksotik.

Asal Usul Seni Betawi
Kesenian Betawi sendiri terbentuk sejak sekitar tahun 1873. Kesenian ini memiliki latar belakang yang unik karena terbentuk akibat adanya asimilasi dari berbagai kebudayaan masyarakat pendatang. Hal ini dikarenakan suku Betawi merupakan percampuran dari suku Jawa, Melayu, Bali, Bugis, Makasar, Sunda, dan Madjikers (keturunan Indonesia – Portugis). Bahkan ada kemungkinan besar penduduk asli Betawi juga hasil percampuran dengan pendatang asing seperti Cina, Eropa, Arab, dan Jepang. Oleh karena itu, pengaruh-pengaruh dari suku bangsa lain pun dapat terlihat pada kesenian Betawi.
Menurut penelitian, ada sekitar 30 macam kesenian Betawi yang terbagi dalam disiplin sastra, tari, teater, dan seni rupa. Pengaruh seperti Jawa, Sunda, Bali, maupun Bugis tampak pada kesenian-kesenian tersebut. Demikian pula adanya percampuran dengan unsur asing, terutama China, misalnya pada kesenian Gambang Kromong. Sedangkan pengaruh lain yang lebih kuat adalah pengaruh Islam, baik dari pakaiannya maupun gaya hidup yang begitu erat dengan Islam. Misalnya terlihat pada pakaian pengantin, dimana pengaruh Arab sangat terlihat.
Ada berbagai macam jenis kesenian betawi. Antara lain Ondel-ondel, Gambang Kromong, Lenong Betawi, Tanjidor, Keroncong Tugu, Orkes Gambus, Rebana, Orkes Samrah, Tari-tarian betawi, Topeng Betawi, Wayang Betawi, dan lain-lain. Bahkan untuk jenis tari-tarian betawi pun terdiri dari beberapa macam.

Tari Topeng Betawi
Salah satu tari Betawi yang paling tersohor adalah tari Topeng Betawi. tarian ini sebenarnya merupakan tarian yang dibuat tanpa melalui konsep. Tari Topeng Betawi ini diduga berasal dari Topeng Babakan Cirebon. Para penarinya menggunakan topeng yang mirip dengan Topeng Banjet Karawang Jawa Barat, namun dalam topeng betawi memakai bahasa Betawi. Dalam topeng betawi sendiri ada tiga unsur, yakni musik, tari, dan teater. Tarian dalam topeng betawi inilah yang disebut tari topeng. Tari Topeng Betawi biasa diperagakan untuk menyambut tamu agung.
Menurut pendapat beberapa tokoh Tari Betawi, secara teknis ada tiga kriteria yang perlu dipenuhi oleh calon penari Topeng Betawi supaya bisa membuahkan gerak yang tepat serta benar untuk terwujudnya kesatuan gerak tubuh yang estetis serta serasi. Antara lain gandes (luwes), ajar (ceria), serta lincah tanpa beban pada saat menari. Selain itu masih ada ketentuan-ketentuan lain yang perlu dipenuhi pada saat menarikan topeng Betawi yakni mendek, dongko, ngengkreg, madep, megar, ngepang dan sebagainya.
Dalam perubahannya saat ini, tari Topeng Betawi terlihat juga sebagai pertunjukan tersendiri, yang selanjutnya kita kenal ada beberapa macam tari Topeng Betawi seperti tari Lipet Gandes, tari Topeng Tunggal, tari Enjot-enjotan, tari Gegot, tari Topeng Cantik, tari Topeng Putri, tari Topeng Ekspresi, tari Kang Aji. Bahkan para penata tari pun mengembangkan tari Topeng Betawi tradisional menjadi tari-tari kreasi baru seperti tari Ngarojeng, tari Doger Amprok, tari Gitek Balen, dan sebagainya.

Salah seorang tokoh seniman Betawi yang telah mengusung aneka tari-tarian Betawi khususnya tari topeng hingga ke manca negara adalah Entong Kisam. Berkat Topeng Betawi, ia sudah berkeliling ke 5 benua, serta 33 negara. Negara yang paling sering ia lawati bersama grup tari topengnya adalah Perancis, Cina dan Thailand.
Salah satu kesenian dalam Topeng Betawi yaitu teater rakyat Betawi yang sangat digemari oleh masyarakat etnis Betawi sebab dapat digunakan untuk menyampaikan kritik sosial. Salah satu lakon topeng Betawi yang terkenal berjudul Bapak Jantuk. Lakon ini mengandung banyak petuah seperti nasehat-nasehat tentang kehidupan berumah tangga. Dalam teater ini digunakan musik pengiring yang disebut gamelan topeng. ***



Ditulis tahun : 2015
Diterbitkan di Majalah Insan Budaya (Kemendikbud)


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik